Search

Bob Edrian

LIBER PRIMUS

Pada tahun 2012, terjadi sebuah fenomena yang memancing perbincangan para internet aficionados. Seseorang atau kelompok (atau mungkin organisasi tertentu?) menuliskan pesan misterius dalam laman sebuah website berbasis imageboard, 4chan. Dibagikan pada tanggal 5 Januari, pesan tersebut berbunyi:

Hello. We are looking for highly intelligent individuals. To find them we have devised a test.

There is a message hidden in this image.

Find it, and it will lead you on the road to finding us. We look forward to meeting the few that will make it all the way through.

Good Luck.

 

3301

Continue reading “LIBER PRIMUS”

Advertisements

PENANDA KOSONG

Perihal Sirkulasi Penanda, Kuasa, dan Kekosongan

Derasnya produksi, distribusi, dan konsumsi informasi hari-hari ini seolah membuat manusia harus memilih untuk turut beradaptasi secara cepat dengan risiko tingkat stres yang tinggi atau bersikap tak acuh dengan harapan menjalani hidup dengan lebih tenang. Secara umum, kecepatan sirkulasi informasi di era internet berdampak pada meluapnya kemungkinan konsumsi tanda dalam keseharian manusia. Di satu sisi, manusia dituntut untuk lebih selektif dalam menyaring banjirnya tanda dan informasi, namun di sisi lain kebutuhan atau bahkan tuntutan untuk berbagi secara cepat telah melahirkan proses seleksi tanda dan informasi yang dangkal.

Continue reading “PENANDA KOSONG”

INSTRUMENTA 2018: SANDBOX

The Consolidation of Rules and Open Play

“Playing” activity and the lingos intact are primarily associated with men’s ability to think and assess something in an entertaining way. Specifically, the idea of “playful human” and their compulsion to engage and give impression to the world along with its regulation system are the main components which giving birth to different variety of games: traditional/analogue, arcade, video game and its console, to digital and online games.

Continue reading “INSTRUMENTA 2018: SANDBOX”

A BLESSING IN DISGUISE

What seems to us as bitter trials are often blessings in disguise.

– Oscar Wilde

Tidak sedikit manusia yang berpikir bahwa segala bentuk kenakalan, atau perilaku-perilaku yang tidak sesuai norma, akan berujung pada terbangunnya pribadi/identitas yang buruk. Tuduhan-tuduhan buruk terkait dengan masa depan seseorang akan begitu saja diluncurkan seketika melihat terjadinya perbuatan buruk di hari ini atau masa lalu. Setidaknya seperti itulah pemahaman umum dalam masyarakat yang sebenarnya juga merupakan konstruksi pihak-pihak kuasa dalam institusi tertentu. Sebut saja keluarga, negara, hingga agama.

Continue reading “A BLESSING IN DISGUISE”

SOUND ART TALKSHOW

Sound Art

In New York, as well as Stockholm, London, Milan, Kobe, Melbourne and Delhi,

art centers known as “alternative spaces” emerged

and for decades have supported

the evolving

sonic arts,

“Sound art is a global phenomenon.”

 

Barbara London

(“The Power of Sound as an Art Form”, Ella Delaney, The New York Times, 3 Oktober 2013)

 

1      Introduksi

Istilah sound art bukanlah istilah yang benar-benar baru karena penggunaannya sebenarnya sudah dimulai sekitar 20 tahun yang lalu. Alan Licht, seorang komposer sekaligus penulis asal Amerika Serikat, cukup berjasa dalam perkembangan kajian sound art dengan menerbitkan sebuah buku berjudul Sound Art: Beyond Music, Between Categories pada tahun 2007. Buku ini dianggap cukup terstruktur dalam hal pengarsipan karya-karya seni yang mengandung eksplorasi bebunyian. Berkaitan dengan terminologi sound art, dalam tulisannya untuk jurnal Organised Sound (Cambridge University, 2009) berjudul Sound Art: Origins, development, and ambiguities, Licht mengungkapkan, “The term itself dates back to William Hellermann’s SoundArt Foundation, founded in the late 1970s, which produced a 1983 exhibition at the Sculpture Center in New York, Sound/Art.”1 Ia kemudian menyebut tiga pameran sound art yang dianggap signifikan pada periode pertengahan hingga akhir 1990-an, sebuah periode dimana istilah sound art mulai banyak digunakan:

It gained currency in the mid- to late 1990s, when I first heard it, starting perhaps with the first Sonambiente festival in 1996, culminating in three important shows in the year 2000: Sonic Boom: The Art of Sound, curated by Toop at the Hayward Gallery in London; Volume: A Bed of Sound, curated by Elliott Sharp and Alanna Heiss at PS1, New York; and I Am Sitting In A Room: Sound Works by American Artists 1950–2000, curated by Stephen Vitiello as part of the American Century exhibition, Whitney Museum, New York.”2

Continue reading “SOUND ART TALKSHOW”

REFLECTING CITARUM

Berasal dari dua kata dalam Bahasa Sunda, ‘Ci’ (yang bermakna cahaya pantulan di atas air atau ‘banyu’/’tirta’) dan ‘tarum’ (tumbuhan penghasil warna nila), Citarum merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Propinsi Jawa Barat, Indonesia, sekaligus juga salah satu sungai paling tercemar di dunia. Dengan kondisi tersebut, Citarum yang di satu sisi berperan penting bagi aktivitas dan kehidupan di sekitarnya, di sisi lain merupakan ancaman serius terutama berkaitan dengan aspek kesehatan. Seperti halnya kata ‘Ci’ yang bermakna cahaya pantulan di atas air, kata ‘reflecting’ merupakan kata yang dianggap paling representatif untuk mewakili aktivitas memahami dan memikirkan solusi bagi sungai Citarum. Reflecting Citarum merupakan sebuah upaya untuk memicu kesadaran terhadap kondisi sungai Citarum saat ini.

Continue reading “REFLECTING CITARUM”

TOMORROW THE WINDOW COLLAPSES

Digitalisasi Abstraksi Keseharian

Abad ke-21 menandai munculnya percepatan informasi dan persaingan intens dalam hal melahirkan ragam inovasi perkembangan teknologi. Teknologi digital hingga pemanfaatan internet dalam kehidupan sehari-hari telah banyak mengubah pola pikir manusia. Pola pikir yang dipengaruhi oleh kemajuan teknologi tersebut kemudian melahirkan ragam metode dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi manusia. Fenomena perkembangan dan pemanfaatan teknologi mutakhir juga turut mempengaruhi pola-pola kerja artistik dalam ranah kesenian. Festival-festival seperti Transmediale di Berlin, Jerman, Ars Electronica di Linz, Austria, hingga yang terdekat festival Nu Substance (2007-2012) atau bahkan Bandung International Digital Arts Festival sedikit banyak telah menunjukkan bagaimana teknologi telah mengubah metode penciptaan serta cara mengapresiasi karya seni.

Continue reading “TOMORROW THE WINDOW COLLAPSES”

RIUH SAUDARA

Expanded Media Improvisation

In everyday life, the development of media technology has changed human behavior or habits. Marshall McLuhan has at least attempted to illustrate it in his 1964 book entitled Understanding Media: The Extensions of Man. McLuhan proposed that regardless of the content or messages contained within the media (for example news or radio and television programs), the characteristics or the mechanisms of media (McLuhan using lightbulb as an example) is enough to affect human everyday activities. In the artistic realm, such as music, fine/visual art, as well as media art, the development of media technology has also triggered various new exploration and tendencies. The international movement of Fluxus in the 1960s, whose exponents came from various disciplines, is one of the phenomena that showed the involvement of media development within artistic practices. The term ‘intermedia’ was then popular to describe the artistic exploration of Fluxus, from video art to performances and happening art.

Continue reading “RIUH SAUDARA”

PINTAS

The medium, or process, of our time – electric technology – is reshaping and restructuring patterns of social interdependence and every aspect of our personal life.

– Marshall McLuhan

The Medium is the Massage: An Inventory of Effects (1967)

Selama kurang lebih lima puluh tahun setelah Marshall McLuhan mengungkapkan pernyataan di atas, perkembangan media (dalam hal ini media elektronik, informasi, dan komunikasi) telah mengalami perkembangan yang berkali-kali mengubah pola dan cara hidup manusia. Teknologi internet (pertama kali masuk ke ranah publik pada pertengahan 1989), sebagai perkembangan terkini atau setidaknya dalam 20 tahun terakhir, dengan segera mengubah perilaku manusia dalam mengakses dan menyebarkan informasi. Dalam buku yang ditulis oleh Shumon Basar, Douglas Coupland, dan Hans Ulrich Obrist berjudul The Age of Earthquakes: A Guide to the Extreme Present (diterbitkan pada tahun 2015 dan konon merupakan sebuah upaya merespons gagasan Marshall McLuhan dalam buku The Medium is the Massage: An Inventory of Effects), bahkan disebutkan bahwa manusia tidak hanya mengubah struktur otak dalam kurun waktu beberapa tahun ini, melainkan juga struktur planet. Proses perubahan pola perilaku manusia akibat perkembangan media dan teknologi seringkali menjadi pemicu bentuk-bentuk eksplorasi terkini dalam seni media.

Continue reading “PINTAS”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑