Search

Bob Edrian

Search results

"salon"

Salon Volume 7: Pan-A-Sonic

Instrumentasi, Ekstensi, dan Ekspansi

In the past decade, computers have delivered cybernetic music into realms which reach beyond human capabilities.

– David Toop

Ocean of Sound: Aether Talk, Ambient Sound and Imaginary Worlds (1995)

Sistem dan bahasa komputer, atau seringkali disebut dengan istilah komputasi, telah menjadi salah satu aspek dalam ranah linguistik interdisipliner. Linguistik komputasi sebagai penggabungan antara cara kerja komputer dengan bahasa secara umum. Bahasa yang merupakan salah satu komponen pembentuk kebudayaan. Ranah lainnya yang tidak terlepas dari pengaruh komputasi adalah seni musik. Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membuka ragam eksplorasi musikal hingga bebunyian yang sebelumnya dibatasi oleh instrumen musik konvensional. Seni musik di Abad ke-21 tidak pernah bisa dilepaskan dari pengaruh komputer, baik dalam hal instrumentasi maupun sistem perekaman dan distribusinya.

Continue reading “Salon Volume 7: Pan-A-Sonic”

Advertisements

SALON Vol. 6: Shifting the Axes

If you really love guitar, you’re going to spend every waking hour stroking the thing.

Frank Zappa

Kutipan apocryphal di atas mungkin dapat mewakili sebagian besar gitaris hingga mungkin (sekadar) penggemar instrumen gitar. Salah satu instrumen musik paling populer ini seringkali menjadi pijakan awal bagi siapapun yang ingin mendalami ranah musik secara umum. Tidak sedikit gitaris yang antusias ketika menceritakan pengalaman mendapatkan gitar pertamanya atau betapa ia telah menghabiskan berjam-jam (hingga bahkan masa pubernya) di dalam kamar untuk menguasai teknik ataupun scale-scale gitar tertentu. Antusiasme terhadap instrumen gitar pun berkembang menjadi sesuatu yang bersifat perayaan massal dimana era 1970-an hingga 1980-an dianggap sebagai sebuah era lahirnya para guitar hero. Istilah guitar hero (yang juga dijadikan merek dagang di ranah video game) kemudian melekat sebagai sebuah penghargaan ataupun tujuan bagi siapapun yang hendak menjajal batas kemampuannya dalam menguasai instrumen gitar.

Continue reading “SALON Vol. 6: Shifting the Axes”

SALON Vol. 5: Lost in Transmission

Bunyi Esensial

By developing his extensions, man has been able to improve or specialize various functions. The computer is an extension of part of the brain, the telephone extends the voice, the wheel extends the legs and feet. Language extends experience in time and space while writing extends language. Man has elaborated his extensions to such a degree that we are apt to forget that his humanness is rooted in his animal nature.1

Continue reading “SALON Vol. 5: Lost in Transmission”

SALON Vol. 4: Encountering the Everyday

Mengidentifikasi Fenomena Budaya Aural

The widespread claim that we live in a deeply visualised culture is questioned. It is argued that contemporary Western society can also be characterised in terms of an increasing interest in auditory perception, which the development of sound art as an artistic discipline is one symptom of.1

Continue reading “SALON Vol. 4: Encountering the Everyday”

SALON Vol. 3: An Acousmatic Experience

Salon sebagai Bagian dari Perhelatan Bandung New Emergence v.6

Ini merupakan kali ketiga perhelatan Salon digelar setelah sebelumnya Volume 1 diselenggarakan pada tahun 2015 (Platform3) dan Volume 2 di tahun 2016 (Lawangwangi Creative Space). Pada perhelatannya kali ini, Salon Volume 3 hingga Volume 5 nanti, akan diplot sebagai pra-event Bandung New Emergence v.6 (BNE v.6) yang akan digelar di Selasar Sunaryo Art Space akhir tahun ini. Dalam setiap perhelatannya, Salon selalu menghadirkan tema spesifik yang disesuaikan dengan gagasan penampil ataupun karakter venue yang dipilih. Hal ini dimaksudkan untuk memperkaya wacana bunyi dan musik yang ditekankan pada pengalaman serta persepsi ataupun apresiasi audiens.

Continue reading “SALON Vol. 3: An Acousmatic Experience”

Salon Volume 01: Conversation in New Music

New music merupakan sebuah istilah yang mencakup beragam pemahaman dan definisi. Makna ‘baru’ dalam istilah new music bisa saja dipahami secara dangkal: ‘baru saja muncul’, musik yang baru saja dirilis; ataupun ditelaah lebih jauh melalui metode sejarah sebagai sebuah musik yang mulai berkembang di Abad ke-20. Pada pemahaman kedua, kebaruan dalam new music tidak hanya mencakup kebaruan dalam hal kelahiran ataupun kemunculannya, tetapi juga berkaitan dengan metode bagaimana musik itu dimainkan atau lebih jauh lagi, bagaimana sebuah bunyi dihasilkan dan dimaknai. Pergeseran pemahaman terhadap musik di Abad ke-20 tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi serta gagasan maupun ideologi-ideologi yang muncul pada abad tersebut.

Continue reading “Salon Volume 01: Conversation in New Music”

Bandung New Emergence Volume 6

LISTEN!

The impetus for the title was twofold. The simple clear meaning of the word, to pay attention aurally, and its clean visual shape – LISTEN – when capitalized. It was also its imperative meaning – partly I must admit, as a private joke between myself and my then current lover, a French-Bulgarian girl, who used to shout it before she began to throw things at me when she was angry.

Kata LISTEN! merupakan sebuah kata yang digunakan untuk mewakili presentasi dan apresiasi karya-karya yang akan ditampilkan dalam Bandung New Emergence edisi keenam. Kata ini (LISTEN, tanpa tanda seru) digunakan oleh Max Neuhaus pada periode 1960-an untuk karya soundwalk-nya. Dalam kutipan yang dilampirkan di atas, Neuhaus mengungkapkan bahwa salah satu gagasan penggunaan kata LISTEN antara lain berkaitan dengan penekanannya pada aktivitas menyimak, dalam hal ini menyimak secara aural. Kata aural sendiri bermakna segala sesuatu yang berkaitan ataupun ditangkap oleh indera pendengaran manusia, dalam hal ini telinga. Kemampuan menyimak secara aural akan menjadi titik tolak apresiasi karya-karya Bandung New Emergence Volume 6 yang menghadirkan karya-karya sound art. LISTEN! (dengan tanda seru) berupaya mengungkapkan adanya fenomena karya-karya seni dengan elemen bunyi dalam perkembangan seni di Indonesia, khususnya kota Bandung, yang bukan merupakan karya seni musik (penggunaan elemen bunyi dalam seni seringkali dikaitkan dengan seni musik).

Continue reading “Bandung New Emergence Volume 6”

‘Temporalitas’ dalam Bunyi

Kata ‘temporalitas’ merupakan terjemahan langsung dari kata dalam Bahasa Inggris, ‘temporality.’ Meskipun hanya kata ‘temporal’ yang tersedia dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna ‘temporalitas’ kurang lebih mewakili karakteristik dari segala apapun yang berkaitan dengan ‘waktu’ secara umum, dan ‘kesementaraan’ ataupun ‘keduniawian’ dalam khazanah yang lebih filosofis. Dalam wacana filsafat, ‘temporalitas’ menjadi kajian bagi beberapa filsuf Barat seperti Martin Heidegger yang memaknai temporalitas sebagai sebuah proses being (baca: menjadi) dan Friedrich Nietzsche yang menggunakan istilah eternal recurrence (baca: perulangan abadi) untuk memaparkan keterkaitan antara ‘waktu’ yang bersifat tidak terbatas dengan ‘peristiwa’ yang bersifat terbatas.

Continue reading “‘Temporalitas’ dalam Bunyi”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑